Dua puluh delapan kedua.
Selamat mengulang dua puluh delapan yang kedua kalinya, sayang. Mungkin, suatu saat nanti kelak kamu akan bosan melihatku. Mungkin, suatu saat nanti kelak kamu akan lelah menghadapiku. Mungkin, jalan didepan yang akan kita lalui belum terlihat jelas seberapa beratnya. Tapi kuharap tetap selalu ada kita disuatu saat nanti. Maaf bila terkadang aku memalingkan pandangan pada sekitar. Tapi perlu kamu ketahui sayang, bahwa itu hanya untuk mengeliminasi debar. Dan kepada kamu, sayang. Pada sepasang telapak tangan milikmu, aku titipkan duniaku. Dan semoga cinta kita tak seperti segitiga bentuknya, yang menyelipkan sudut baru untuk dibagi cintanya. Terima kasih untuk hati yang sedang bahagia atas rasa teristimewa yang Tuhan titipkan kepadaku melalui kamu. Kini biar Tuhan yang menentukan cerita dan kita yang menjaga 'kita'. Tertanda, Perempuanmu.