Di atas bianglala
Senja telah menutup hari itu dengan sempurna matahari menenggelamkan oranye tanpa seorangpun menyadari.
kita masih terjebak di kerumunan manusia-manusia yang terlalu banyak namun terlihat seperti sedang mendalami dunia mereka sendiri-sendiri.
Kita ada disana . Di depan satu lingkaran besar yang penuh kotak-kotak kecil berisikan manusia .
Yang tertawa , sedikit jerit , sampai decak kagum luar biasa .
Satu lingkaran besar yang berhiaskan lampu warna-warni , yang berputar sedemikian pelan .
Kamu menggenggam tanganku dengan erat ketika bianglala mulai berputar sedemikian pelannya.
"Aku takut ketinggian" ucapmu .
Aku tertawa mendengar ucapanmu.
Semakin tinggi kotak-kotak itu berputar , semakin erat genggamanmu .
Keringat dingin mulai mengalir dari dahi mu .
Tiba-tiba kau melepaskan genggamanmu . Melepaskanku .
"Aku benar-benar takut ketinggian" katamu tiba-tiba.
"Kalau begitu , jangan penah kamu meninggikanku kemudian menjatuhkanku ." ucapku dalam hati .
Di atas bianglala itu aku tersenyum , menikmati sisa malam itu dan berharap pagi tak akan datang .
Di atas bianglala itu aku tersenyum , tempat kenanganku dengan dirinya yang akan kuceritakan .
Ketika aku menulis ini , setiap potongan kenangan kita bermunculan dan asih ada rasaku untukmu .
Dan aku berharap suatu saat nanti , aku bersamamu di tempat ini , senja hari diatas bianglala , kau berjanji untuk tetap bersama .
Andai aku diizinkan kembali untuk kesana , akan ku ukir cerita baru yang lebih manis bersamamu .
Terima kasih untuk setiap genggaman dihari itu .
Terima kasih untuk lengan kokoh yang kau lingkarkan dipinggangku.
Terima kasih untuk bahu yang menjadi senderanku ketika aku terlelap .
Terima kasih untuk satu hari yang tak kan terlupakan itu :')
Komentar
Posting Komentar