Hari ini ...
Ini tentang cerita yang biasa saja tapi entah mengapa aku begitu mengingatnya dengan jelas. Tunggu dulu...ada yang istimewa dalam cerita ini yaitu K-A-M-U.
Hari ini jam menunjukan pukul 23.54. Hari ini hari ke empat belas dibulan Oktober.
Kau dan aku menyusuri jalan setapak, hembusan angin malam ini begitu menusuk tulangku.
Di malam ini kau menyinari jalanku dengan sentermu, dimalam yang begitu hening.
Kita berjalan dalam kesunyian tanpa ada sepatah kata yang kelua dari bibir kita, mungkin kau merasa canggung.
Hari ini masih sama...hari ke empat belas dibulan Oktober.
Hari ini matahari seolah malu menampakkan cahayanya, matahari hari ini tertutup awan gelap.
Tak lama butiran air hujan mulai jatuh ke tanah, saat ini kita sedang bersiap untuk pulang.
Hari ini masih sama...hari ke empat belas dibulan Oktober.
Hari ini senja datang menghampiri begitu cepat, tak terasa.
Hari ini kau mengajakku berbicara, begitu pelan ku dengar suaramu.
Apa kamu merasa malu? Apa kamu takut?
Hari ini masih sama...hari ke empat belas dibulan Oktober.
Matahari telah kembali ke peraduannya.
Hari ini semua orang sudah pergi meninggalkan tempat ini, mereka kelelahan.
Sedangkan aku? Menunggu hingga ayahku menjemputku.
Malam ini kau menghampiriku, kau menanyakan namaku. Kau ingin mengenalku?
Ah lupakan awal perkenalan itu, terlalu kaku dan bodoh.
Tak lama kita larut dalam percakapan singkat yang tidak begitu penting itu sampai akhirnya kau mengakhiri percakapan itu dan melangkah pergi.
Aku masih ingat caramu menatapku hari ini.
Empat belas Oktober dua ribu tiga belas
Komentar
Posting Komentar