Surat untuk, D.
Teruntuk kamu, D.
Apa kabarmu, D? Baik-baik saja kah? Aku selalu berharap kamu akan selalu baik-baik saja setelah melepaskan aku.
Bagaimana dengan perempuanmu? Perempuan yang dulu kamu banggakan didepan aku? Apakah kamu masih bersama dengannya? Perempuan yang mempunyai nilai lebih dimatamu.
Hai, D.
Barangkali, memang tidak ada yang bisa dijawab waktu, seperti kita yang bukan lagi menjadi kau dan aku, juga kehilangan yang terlalu.
Aku masih ingat bagaimana kehilangan yang terlalu itu.
Bagaimana kalau kau tanyakan kepada teman-temanku seberapa dalamnya kehilangan beberapa tahun lalu?
Oke, kalaupun kamu tidak ingin bertanya kepada mereka biarkan aku memberi tahumu sedikit tentang hal itu.
Ketika kamu meninggalkanku tahukah kamu, bahwa aku kehilangan nafsu makanku?
Ketika kamu meninggalkanku tahukah kamu, bahwa aku begitu kehilangan konsentrasiku?
Ketika kamu meninggalkanku tahukah kamu, bahwa aku mendapati peringkat terbawah?
Semua orang memandangiku, D! Mereka melihat seolah-olah itu bukan aku!
Hai, D.
Tahukah kamu bagaimana beratnya memperjuangkan "kita" kalau hanya kamu seorang diri?
Tahukah kau bagaimana perjuangan untuk merelakan?
Tahukah kamu bagaimana rasanya berusaha melepaskan diri, berharap pada yang mengharapkan orang lain, memberikan bahagia kepada yang telah membuatmu berairmata?
Tahukah kamu bagaimana rasanya kembali percaya kepada seseorang ketika dulu ada yang begitu mudahnya menyia-nyiakan sebuah kepercayaan?
Kamu tahu,D?
Aku menemukan seseorang yang sikapnya seperti kamu,D. Tapi sifatnya berbeda denganmu, D. Segala sesuatu yang berhubungan dengan "kita", dia tidak pernah menyelesaikannya dengan amarah apalagi dengan mengakhiri suatu hubungan.
Kamu tahu, D?
Banyak senyum yang terukir diwajahku ketika bersamanya.
Kamu tahu, D?
Mungkin dia orang yang pertama kali akan aku percaya setelah kamu. Semoga dia bisa menjaga percayaku seutuhnya.
Terima kasih untuk semuanya, D.
Karena hari-hari berat, malam-malam yang penuh dengan tangis, hati yang pelan-pelan meretak, telah mengajarkanku untuk kuat.
Karena kini aku tahu, aku akan menertawai seluruh rangkai airmata ini.
Dari seseorang yang pernah memiliki rasa yang kini tidak lagi sama.
Apa kabarmu, D? Baik-baik saja kah? Aku selalu berharap kamu akan selalu baik-baik saja setelah melepaskan aku.
Bagaimana dengan perempuanmu? Perempuan yang dulu kamu banggakan didepan aku? Apakah kamu masih bersama dengannya? Perempuan yang mempunyai nilai lebih dimatamu.
Hai, D.
Barangkali, memang tidak ada yang bisa dijawab waktu, seperti kita yang bukan lagi menjadi kau dan aku, juga kehilangan yang terlalu.
Aku masih ingat bagaimana kehilangan yang terlalu itu.
Bagaimana kalau kau tanyakan kepada teman-temanku seberapa dalamnya kehilangan beberapa tahun lalu?
Oke, kalaupun kamu tidak ingin bertanya kepada mereka biarkan aku memberi tahumu sedikit tentang hal itu.
Ketika kamu meninggalkanku tahukah kamu, bahwa aku kehilangan nafsu makanku?
Ketika kamu meninggalkanku tahukah kamu, bahwa aku begitu kehilangan konsentrasiku?
Ketika kamu meninggalkanku tahukah kamu, bahwa aku mendapati peringkat terbawah?
Semua orang memandangiku, D! Mereka melihat seolah-olah itu bukan aku!
Hai, D.
Tahukah kamu bagaimana beratnya memperjuangkan "kita" kalau hanya kamu seorang diri?
Tahukah kau bagaimana perjuangan untuk merelakan?
Tahukah kamu bagaimana rasanya berusaha melepaskan diri, berharap pada yang mengharapkan orang lain, memberikan bahagia kepada yang telah membuatmu berairmata?
Tahukah kamu bagaimana rasanya kembali percaya kepada seseorang ketika dulu ada yang begitu mudahnya menyia-nyiakan sebuah kepercayaan?
Kamu tahu,D?
Aku menemukan seseorang yang sikapnya seperti kamu,D. Tapi sifatnya berbeda denganmu, D. Segala sesuatu yang berhubungan dengan "kita", dia tidak pernah menyelesaikannya dengan amarah apalagi dengan mengakhiri suatu hubungan.
Kamu tahu, D?
Banyak senyum yang terukir diwajahku ketika bersamanya.
Kamu tahu, D?
Mungkin dia orang yang pertama kali akan aku percaya setelah kamu. Semoga dia bisa menjaga percayaku seutuhnya.
Terima kasih untuk semuanya, D.
Karena hari-hari berat, malam-malam yang penuh dengan tangis, hati yang pelan-pelan meretak, telah mengajarkanku untuk kuat.
Karena kini aku tahu, aku akan menertawai seluruh rangkai airmata ini.
Dari seseorang yang pernah memiliki rasa yang kini tidak lagi sama.
sekali lagi maafin aku :)
BalasHapus