Maaf
Selamat malam, kesayanganku.
Entah mengapa aku masih menyesali pertengkaran kita beberapa pekan lalu.
Masalah sepele yang berujung perdebatan, dan menganggap betapa kita merasa saling benar.
Dan pada akhirnya kita menumpahkan perasaan kita yang sebenarnya tanpa peduli jika itu terdengar menyakiti.
Padahal dulu kita saling mengalah tanpa harus berdebat.
Maafkan perilaku dan nada tinggiku pada beberapa pekan lalu.
Nyatanya aku masih mudah tersulut emosi.
Paling tidak kini aku mengerti apa maumu.
Namun kita masih harus banyak belajar untuk lebih dewasa dan mengungkapkan perasaan dengan kepala dingin.
Semoga pertengkaran itu tidak mengurangi rasa yang ada pada diri kita.
Semoga kita akan tetap terus tumbuh bersama.
Kelak masih ada dua delapan selanjutnya, bukan?
Entah mengapa aku masih menyesali pertengkaran kita beberapa pekan lalu.
Masalah sepele yang berujung perdebatan, dan menganggap betapa kita merasa saling benar.
Dan pada akhirnya kita menumpahkan perasaan kita yang sebenarnya tanpa peduli jika itu terdengar menyakiti.
Padahal dulu kita saling mengalah tanpa harus berdebat.
Maafkan perilaku dan nada tinggiku pada beberapa pekan lalu.
Nyatanya aku masih mudah tersulut emosi.
Paling tidak kini aku mengerti apa maumu.
Namun kita masih harus banyak belajar untuk lebih dewasa dan mengungkapkan perasaan dengan kepala dingin.
Semoga pertengkaran itu tidak mengurangi rasa yang ada pada diri kita.
Semoga kita akan tetap terus tumbuh bersama.
Kelak masih ada dua delapan selanjutnya, bukan?
Komentar
Posting Komentar