Teruntuk kamu yang pernah pergi dan selalu kembali lagi, Baskara. Aku ingin bercerita tentang Baskara Yang menemaniku dan menyambutku setiap hari. Baskara, yang selalu memeluk dan menghangatkan ku. Mungkin aku lupa, aku bukanlah Aphrodite Aku bukan pula Fortuna Aku hanyalah manusia biasa yang keras kepala Baskara... Pada akhirnya realita akan menghancurkan ekspetasi Imaji yang perlahan namun pasti membuat terkikis Menyayat nadi dengan buas dan meninggalkan sebuah goresan Baskara... Aku takut terangmu kian meredup Aku takut... Baskara, aku ingin mengecupmu Namun kali ini tidak bisa ku lakukan Rona yang gemar ku kecup kini membakarku Semisal aku kayu bakar, aku telah hangus terbakar hingga menjadi arang Hentikanlah, Baskara. Aku rindu kehangatanmu Aku sangat rindu
Tenang saja, aku cuma marah. Aku marah bukan berarti aku benci, tapi karena aku berharap kamu mengerti Aku terbakar, Tapi kau tidak memadamkannya, Kau tak meredam dan kau menghindar, Lalu kau sebut itu "menjaga kedamaian" Aku marah, kau diam Bukan damai yang datang, Tapi jarak yang akan tumbuh pelan-pelan Aku terbakar, kau mengabaikanku Bukan karena tak tahu, Tapi karena tak peduli perasaanku Asapku mengepul, Kau malah menutup jendela, Takut terganggu bukan takut kehilangan Kini aku tahu, Aku tak perlu menjelaskan marah, pada seseorang yang bahkan tak peduli saat aku terluka Aku tak perlu menjelaskan marah, karena yang peduli tak butuh penjelasan dan yang tak peduli akan tetap mengabaikan, sejelas apapun aku bicara Kini aku tahu, Lukaku hanyalah bumbu drama yang bisa kau skip Diam mu adalah alasan, Untuk lari dari tanggung jawab emosional Jadi, Jangan tanya kenapa aku dingin, Dulu aku berapi, tapi ...
Kita menyalahartikan kedekatan kita Kamu yang diliputi rasa bersalah, dan aku yang bertingkah salah Ketakutan-ketakutan yang menyelimuti setiap malam datang dan menusuk tulang Jika aku berkata bahwa aku tidak sanggup melangkah lebih jauh lagi, akankah kamu percaya? Bagimu aku merupakan perempuan yang periang, bukan? Yang terlalu sering menertawai hidup dan terlalu baik kepada dunia Padahal banyak reruntuhan yang ada pada diriku Si manusia kacau balau Yang apik dan rapih menyembunyikan gemuruh dan badai dalam hatinya Ironi, bukan? Aku tak pernah menuntut agar segalanya menjadi seperti yang aku mau Kelak nanti kita mungkin hanya sebatas pernah Pernah saling menemukan Pernah saling merasa nyaman Pernah saling merasa bahagia Hingga pernah saling merasa kehilangan Aku ingin ikhlas menerima, semesta bagaimana? Kita hanya dua orang yang sedang singgah karena tesesat Layaknya pertemuan, Tuhan selalu bertanggung jawab terhadap perpisahan
Komentar
Posting Komentar