Teruntuk kamu yang pernah pergi dan selalu kembali lagi, Baskara. Aku ingin bercerita tentang Baskara Yang menemaniku dan menyambutku setiap hari. Baskara, yang selalu memeluk dan menghangatkan ku. Mungkin aku lupa, aku bukanlah Aphrodite Aku bukan pula Fortuna Aku hanyalah manusia biasa yang keras kepala Baskara... Pada akhirnya realita akan menghancurkan ekspetasi Imaji yang perlahan namun pasti membuat terkikis Menyayat nadi dengan buas dan meninggalkan sebuah goresan Baskara... Aku takut terangmu kian meredup Aku takut... Baskara, aku ingin mengecupmu Namun kali ini tidak bisa ku lakukan Rona yang gemar ku kecup kini membakarku Semisal aku kayu bakar, aku telah hangus terbakar hingga menjadi arang Hentikanlah, Baskara. Aku rindu kehangatanmu Aku sangat rindu
Denganmu, setiap perjalanan terasa singkat. Angin malam memeluk wajahku, lampu kota berpendar bagai bintang, Aku suka lampu-lampu malam di setiap sudut kota, dan aku duduk manis di belakangmu, menyandarkan letih pada bahumu yang selalu terasa kokoh. Aku ingat, banyak tempat yang kau tunjukkan, banyak rasa yang kau kenalkan, hingga aku merasa dunia lebih luas ketika bersamamu. Sejak itu, aku terbiasa bergantung padamu bukan hanya pada arah jalan yang kau pilih, pada rasa aman yang kau beri, pada hangat sederhana yang diam-diam menjelma di ruang hati. Kini semua tinggal kenangan, tak bisa kuulang, namun tetap hidup dalam ingatan, Kelak nanti, mungkin kita akan tersenyum saat mengingat semua perjalanan itu. Bukan lagi dengan rasa perih kehilangan, tapi dengan syukur karena pernah ada waktu di mana dunia terasa indah,sederhana, dan cukup hanya dengan berdua.
Kita menyalahartikan kedekatan kita Kamu yang diliputi rasa bersalah, dan aku yang bertingkah salah Ketakutan-ketakutan yang menyelimuti setiap malam datang dan menusuk tulang Jika aku berkata bahwa aku tidak sanggup melangkah lebih jauh lagi, akankah kamu percaya? Bagimu aku merupakan perempuan yang periang, bukan? Yang terlalu sering menertawai hidup dan terlalu baik kepada dunia Padahal banyak reruntuhan yang ada pada diriku Si manusia kacau balau Yang apik dan rapih menyembunyikan gemuruh dan badai dalam hatinya Ironi, bukan? Aku tak pernah menuntut agar segalanya menjadi seperti yang aku mau Kelak nanti kita mungkin hanya sebatas pernah Pernah saling menemukan Pernah saling merasa nyaman Pernah saling merasa bahagia Hingga pernah saling merasa kehilangan Aku ingin ikhlas menerima, semesta bagaimana? Kita hanya dua orang yang sedang singgah karena tesesat Layaknya pertemuan, Tuhan selalu bertanggung jawab terhadap perpisahan
Komentar
Posting Komentar