Teruntuk kamu yang pernah pergi dan selalu kembali lagi, Baskara. Aku ingin bercerita tentang Baskara Yang menemaniku dan menyambutku setiap hari. Baskara, yang selalu memeluk dan menghangatkan ku. Mungkin aku lupa, aku bukanlah Aphrodite Aku bukan pula Fortuna Aku hanyalah manusia biasa yang keras kepala Baskara... Pada akhirnya realita akan menghancurkan ekspetasi Imaji yang perlahan namun pasti membuat terkikis Menyayat nadi dengan buas dan meninggalkan sebuah goresan Baskara... Aku takut terangmu kian meredup Aku takut... Baskara, aku ingin mengecupmu Namun kali ini tidak bisa ku lakukan Rona yang gemar ku kecup kini membakarku Semisal aku kayu bakar, aku telah hangus terbakar hingga menjadi arang Hentikanlah, Baskara. Aku rindu kehangatanmu Aku sangat rindu
Denganmu, setiap perjalanan terasa singkat. Angin malam memeluk wajahku, lampu kota berpendar bagai bintang, Aku suka lampu-lampu malam di setiap sudut kota, dan aku duduk manis di belakangmu, menyandarkan letih pada bahumu yang selalu terasa kokoh. Aku ingat, banyak tempat yang kau tunjukkan, banyak rasa yang kau kenalkan, hingga aku merasa dunia lebih luas ketika bersamamu. Sejak itu, aku terbiasa bergantung padamu bukan hanya pada arah jalan yang kau pilih, pada rasa aman yang kau beri, pada hangat sederhana yang diam-diam menjelma di ruang hati. Kini semua tinggal kenangan, tak bisa kuulang, namun tetap hidup dalam ingatan, Kelak nanti, mungkin kita akan tersenyum saat mengingat semua perjalanan itu. Bukan lagi dengan rasa perih kehilangan, tapi dengan syukur karena pernah ada waktu di mana dunia terasa indah,sederhana, dan cukup hanya dengan berdua.
Selamat mengulang dua puluh delapan yang kedua kalinya, sayang. Mungkin, suatu saat nanti kelak kamu akan bosan melihatku. Mungkin, suatu saat nanti kelak kamu akan lelah menghadapiku. Mungkin, jalan didepan yang akan kita lalui belum terlihat jelas seberapa beratnya. Tapi kuharap tetap selalu ada kita disuatu saat nanti. Maaf bila terkadang aku memalingkan pandangan pada sekitar. Tapi perlu kamu ketahui sayang, bahwa itu hanya untuk mengeliminasi debar. Dan kepada kamu, sayang. Pada sepasang telapak tangan milikmu, aku titipkan duniaku. Dan semoga cinta kita tak seperti segitiga bentuknya, yang menyelipkan sudut baru untuk dibagi cintanya. Terima kasih untuk hati yang sedang bahagia atas rasa teristimewa yang Tuhan titipkan kepadaku melalui kamu. Kini biar Tuhan yang menentukan cerita dan kita yang menjaga 'kita'. Tertanda, Perempuanmu.
Komentar
Posting Komentar