Time flies so fast
Time flies so fast...
Kenal perempuan ini dibangku kelas 2 sewaktu saya SMF.
Pertama kali saya lihat, dia galak. Tidak murah senyum.
Namun ketika kamu mampu mendekatinya, dia perempuan energik.
Perempuan energik, perempuan dengan minatnya pada bulu tangkis dan persija.
Beberapa orang mungkin menganggap aneh jika ada seorang perempuan menjadi jakangel. Tapi saya menganggapnya unik.
Novel...
Sebuah buku yang menjadi saksi keakraban saya dengan perempuan ini.
Dari sini saya mengetahui, dia tidak ingin masuk daam dunia kesehatan namun perfilman.
Membaca buku membuat kami memiliki wawasan luas, tak luput untuk saling bertukar buku.
Di tahun ini juga saya lebih banyak menghabiskan waktu dan uang saya untuk berlama-lama di salah satu pojok gramedia di Matraman.
Kami bangga menjadi salah seorang yang lebih tau tentang 5 orang sahabat yang mendaki Rinjani.
Membaca membuat kami mempunyai ekspektasi yang sangat luar biasa.
Sampai suatu ketika kami naik ke kelas 3.
Kami tidak sekelas namun setiap istirahat selalu bersama.
Obrolan kamipun tak hanya tentang buku, tapi meluas ke love life.
Kami nyaman, kami sudah saling paham dari cara mata kami becerita.
Kesedihan demi kesedihan mulai berdatangan, tahun paling berat untuk kami.
Saya ingat, waktu dimana kamu mencari saya dan menangis ditangga.
Dan tentu kamu ingat ketika dimana saya menjadi terbelakang dalam akademik saya.
Ketika saya menangis digerbang sekolah jam istirahat.
"yaAllah te, jangan sedih lagi" pelukanmu menguatkanku.
Kemudian kita tiba pada hari perpisahan.
Kita sekamar bersama dengan mama mama kami.
Ketika malam mulai menjelang kamu mencariku, mengajak untuk keluar mencari angin segar.
Lalu duduk-duduk ditepi kolam renang, menikmati pergantian hari sambil bercerita.
Sampai luluspun kami kerap sekali bertemu.
Bercerita tentang studi, keluarga, dan percintaan kami.
Menghibur dikala sedih.
Menguatkan dikala susah.
Dia adalah Imelda Utami.
Yang menghadiahkanku 2 buah buku dan sebuah bingkai.
Tapi bagiku, hadiah terbaik adalah mengenalnya.
Kenal perempuan ini dibangku kelas 2 sewaktu saya SMF.
Pertama kali saya lihat, dia galak. Tidak murah senyum.
Namun ketika kamu mampu mendekatinya, dia perempuan energik.
Perempuan energik, perempuan dengan minatnya pada bulu tangkis dan persija.
Beberapa orang mungkin menganggap aneh jika ada seorang perempuan menjadi jakangel. Tapi saya menganggapnya unik.
Novel...
Sebuah buku yang menjadi saksi keakraban saya dengan perempuan ini.
Dari sini saya mengetahui, dia tidak ingin masuk daam dunia kesehatan namun perfilman.
Membaca buku membuat kami memiliki wawasan luas, tak luput untuk saling bertukar buku.
Di tahun ini juga saya lebih banyak menghabiskan waktu dan uang saya untuk berlama-lama di salah satu pojok gramedia di Matraman.
Kami bangga menjadi salah seorang yang lebih tau tentang 5 orang sahabat yang mendaki Rinjani.
Membaca membuat kami mempunyai ekspektasi yang sangat luar biasa.
Sampai suatu ketika kami naik ke kelas 3.
Kami tidak sekelas namun setiap istirahat selalu bersama.
Obrolan kamipun tak hanya tentang buku, tapi meluas ke love life.
Kami nyaman, kami sudah saling paham dari cara mata kami becerita.
Kesedihan demi kesedihan mulai berdatangan, tahun paling berat untuk kami.
Saya ingat, waktu dimana kamu mencari saya dan menangis ditangga.
Dan tentu kamu ingat ketika dimana saya menjadi terbelakang dalam akademik saya.
Ketika saya menangis digerbang sekolah jam istirahat.
"yaAllah te, jangan sedih lagi" pelukanmu menguatkanku.
Kemudian kita tiba pada hari perpisahan.
Kita sekamar bersama dengan mama mama kami.
Ketika malam mulai menjelang kamu mencariku, mengajak untuk keluar mencari angin segar.
Lalu duduk-duduk ditepi kolam renang, menikmati pergantian hari sambil bercerita.
Sampai luluspun kami kerap sekali bertemu.
Bercerita tentang studi, keluarga, dan percintaan kami.
Menghibur dikala sedih.
Menguatkan dikala susah.
Dia adalah Imelda Utami.
Yang menghadiahkanku 2 buah buku dan sebuah bingkai.
Tapi bagiku, hadiah terbaik adalah mengenalnya.

Komentar
Posting Komentar