Mengakhiri 20

Mengakhiri usia 20-an,
aku menyimpan banyak cerita
yang tak selalu sempat kuceritakan.
Ada air mata yang jatuh diam-diam,
di balik senyum yang kupaksakan.
Ada hari-hari ketika aku harus kuat,
meski hatiku ingin berhenti sebentar.

Banyak gejolak,
banyak tekanan,
banyak pertanyaan tentang arah hidup
yang tak selalu punya jawaban.
Aku belajar bertahan,
bukan karena selalu mampu,
tapi karena tak ada pilihan selain melangkah.

Usia 20-an mengajariku satu hal:
bahwa menjadi dewasa sering kali berarti
menangis dalam sunyi
lalu bangkit seolah tak terjadi apa-apa.

Di umur 30 ini,
aku tak meminta hidup yang mudah,
hanya hati yang tetap lembut,
iman yang terus bertumbuh,
dan keberanian untuk mendengar pada panggilan-Mu.

Semoga di umur 30 ini
aku tetap menjadi diriku sendiri,
tak hilang oleh tuntutan,
tak pudar oleh ekspektasi.

Semoga aku masih berani tertawa
dengan caraku,
menikmati hal-hal kecil
yang dulu dan kini tetap kusuka.
Melakukan apa yang membuatku hidup,
bukan hanya apa yang terlihat hebat.
Memilih tenang tanpa merasa kalah,
dan bahagia tanpa harus menjelaskan.

Terima kasih, Tuhan,
untuk umur 30 ini—
aku ada, aku bertumbuh, aku kuat.
dan aku masih belajar percaya semua rancangan Mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baskara

Biar aku hangus sendiri

Pernah