Menyesal

Hujan sore itu deras, namun jendela kamarku justru kubuka. Udaranya sejuk, namun kali ini aku tak mengantuk dan menyembunyikan diriku di bawah kehangatan selimut seperti hujan-hujan yang seperti biasanya, hujan ini berbeda. Lembaran yang kugenggam ini yang membuatku berbeda. Aku duduk di tepian jendela, memejamkan mata, membiarkan udara sejuknya menembus kulitku. “Le ,sudah jam 8 malam, ayo makan dulu,” tukas ibu, “wealah le jam segini hujan-hujan gini kok dibuka tho yo jendelanya?” Aku diam saja, tak menjawab, tak membantah. Hal itu membuat ibu jengkel dan kembali menutup pintu kamarku. “Wo cah edan.” Begitu gerutunya. Maafkan anakmu, Bu. Anakmu sedang butuh keheningan lebih kali ini. Gara-gara lembaran ini, gara-gara lembaran ini ! teriak isi otakku. Semua kenangan itu kini lalu lalang di otakku, mengacaukan semua keputusan yang terlanjur kubuat. “Makan ! nanti kamu sakit,” “Cewek bawel,”cibirku, “Kamu aja yang makan dulu.” “Janji habis aku makan kamu juga makan?” “Iya..iya deh!” Aku ingat, dulu perempuan itu yang selalu berisik menyuruhku makan. Dengan berbagai alasan dan tak mau menyerah sampai memastikan aku benar-benar makan. Aku ingat, hari lain, hari dimana hujan juga deras dan sejuk seperti malam hari ini, ciuman pertamaku denganmu. Semua orang tak pernah menyangka aku yang sudah kuliah ini belum pernah merasakan ciuman sama sekali, sama seperti aku juga heran ciuman pertamaku direbut perempuan yang waktu itu baru kelas 3 SMA. Masih anak kecil. Aku juga ingat, hari dimana kita putus hubungan untuk yang ketiga kalinya.Hari berhujan yang lain. Hari itu kamu membuatku luluh, perempuan lemah seperti kamu datang ke rumah ini, menepiskan gengsimu untuk membujukku kembali padamu. Membujuk seorang laki-laki untuk kembali padamu. Kenapa kamu selalu mengajakku kembali setiap aku mau pergi? Toh aku pergi demi kebaikanmu sendiri. Aku tau kamu sudah lama merasa terbeban dengan aturan-aturanku. Harusnya kamu senang hidupmu bebas dari cowok otoriter dan egois sepertiku. Aku hanya berusaha melakukan hal baik, dengan melepas burung dalam sangkarnya. Burung cantik dalam sangkar yang selalu ku tetapkan mengekang seperti sekolah militer. Kenapa? Kenapa aku merasa bersalah seperti ini? Bukankah sudah 3tahun aku berhasil melupakanmu? Atau selama ini aku hanya mengira-ngira bahwa aku telah berhasil? Hujan sialan. Hujan memang selalu mampu membawa kenangan indah sekaligus menyakitkan kembali mengganggu otak dan hatiku. Mengobrak-abrik semuanya sampai rasanya aku mau menangis. Tidak, laki-laki pantang menangis. Aku harus melakukan usaha terakhirku sebagai lelaki, biar kali ini aku yang menemuinya. * * *

 “Mau kemana malam-malam begini?” seru ibu,semakin keras karena aku langsung bergegas menuju pintu keluar tanpa menjawab pertanyaannya, “Hey, hey Daniel !” “Mau ke rumah Phylia, Bu,” jawabku akhirnya, “Sebentar saja kok.” “Loh, bukannya kamu sama dia....” Aku tak menunggu kalimat itu selesai baru keluar, toh aku sudah tau akhirannya. ‘Berakhir’ , itu kan, Bu lanjutannya? Dengan kecepatan 120 km/jam kulaju sepeda motor ku menyusuri jalan raya, hujan mengguyur badanku dan kurasakan anggota tubuhku menggigil, jadi ini yang dulu kau rasa? Kalau aku tak selamat sampai tujuan justru itu keberuntunganku. Mati itu mudah, merasakan hidup yang benar-benar merasa hidup yang lebih sulit. Aku tak lagi merasa hidup sejak jauh dari perempuan itu. “Kata ibu, kenapa namaku Phylia? Karena artinya kasih. Kasih itu cinta yang tulus kan? karena itu aku menggunakan namaku mengapa kamu tak boleh meninggalkanku. Karena aku Phylia, ‘mencintaimu dengan tulus’, Daniel,” ucapmu waktu itu sambil tersenyum. Ya, cintamu yang tulus yang dengan mudah kusia-siakan. Pantaskah laki-laki bodoh ini muncul lagi dihadapanmu? * * *

Phylia yang segera membukakan pintu sesaat setelah aku menggedor pintu rumahnya. Ya bagus, dia bersama seorang laki-laki yang pasti namanyalah yang tertulis bersama nama Phylia di lembaran ini. “Daniel ? Kenapa? Kok hujan-hujan begini kamu ke rumahku?” ujar Phylia, dengan ekspresi wajah kebingungan, “Masuk dulu, kamu basah semua gitu.” “Enggak, di luar aja,” tolakku, “Undangan ini, Phy.” Dia mengarahkan pandangan ke lembaran yang ia kirim ke rumahku. “Aku..aku mau minta maaf. Untuk semua yang aku lakuin sama kamu 3 tahun lalu. Mungkin kamu kira, mudah bagiku untuk membuangmu dari hidupku, namun kamu salah. Aku tak pernah lupa kamu, bahkan sampai sekarang. Kamu tak tahu seberapa sulit usahaku untuk bertahan tetap dingin, ketika kamu berkali-kali mengajakku kembali. Kamu tidak tahu seberapa sulit kata-kata “aku gak bisa sama kamu lagi” itu meluncur dari mulutku.” Dia diam, menungguku melanjutkan kata-kata. Aku yang sedari tadi tak berani menatap matanya, akhirnya dengan susah payah kutatap  matanya. Juga disertai dengan senyumanku, mungkin ini yang terakhir. “Aku masih sayang kamu, aku cuma mau bilang itu,” bisikku, “Maka dari itu, aku .. tak mungkin bisa datang ke pernikahanmu besok, Phy.Semoga bahagia.” “Daniel!” Samar-samar kulihat wajah panik Phylia. Kemudian rengkuh hangat yang masih sama, seperti dahulu.Phylia.. * * *

“Daniel bangun, Daniel!” Phylia menangis di balik sofa tempat Daniel ditidurkan. Di meja sudah tersedia air putih dan juga baju ganti. Daniel mengerjap, tak lama kemudian bangun dan duduk di sofa itu, “Phylia?” “Maaf Daniel, ini semua cuma sandiwara, pernikahan itu tak pernah ada. Maaf sampai membuatmu kemari hujan-hujan. Marahi aku, marahi aku.” “Tapi kenapa, Phy?” “Karena aku ingin tahu, bagaimana artiku buatmu selama ini. Karena sampai saat ini aku tak pernah bisa berhenti memikirkanmu meskipun semua orang yang kukenal selalu menyerangku dengan kata yang sama “Lupain dia, Phy” atau “sampai kapan kamu seperti ini?” sementara kamu sudah nampak bersenang-senang di luaran sana. Kupikir kalau kamu datang besok, aku akan mencoba mengajakmu kembali untuk yang terakhir kali. Aku tak menyangka akan begini jadinya.” “Lalu, laki-laki tadi siapa? Bukankah itu yang ada di undanganmu? Emm..Samuel Raditya?” Daniel merapal nama dalam lembaran yang ia genggam. “Bodoh, itu kakakku,” ujar Phylia, “Bukankah aku sudah pernah cerita aku punya kakak laki-laki?” Daniel memeluk Phylia, lama sekali. Kemudian bisiknya, “Kembalilah padaku, Phylia. Dan yang kali ini.. tak akan kubiarkan berakhir lagi"

Sumber : kak sisca :)

Komentar

  1. Ceritanya bagus! ^_^ Tapi aku agak sakit mata baca pake font seperti ini, coba diganti yang lebih besar hehehe ^_^v

    BalasHapus
  2. iyaaa. bener kata bang Basith.. cerita bagus, tapi size-nya yang kecil and font-nya juga jadi bikin agak pusing..
    1 paragrap itu agak terlalu banyak, bisa mungkin dibuat paragrap sedikit - sedikit :)

    BalasHapus
  3. @ Basith : iyaaa kakak :) maksai yaah udah mampir

    @tammizious : oke kak , aku terima sarannya :D makasi yaah udah mau mapir :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baskara

Biar aku hangus sendiri

Pernah