so much harder to move on.

Hai kamu yang disana...Apa kabarmu? Apa kau masih mengingatku?
Iya, aku. Aku yang dulu pernah menyukaimu sewaktu kita masih ditaman kanak-kanak. Entah mengapa aku kembali mengingatmu , mengingat seseorang dimasa kecilku, seseorang yang menjadi bagian yang terpentingku di masa lalu.

Kamu ingat sewaktu kita duduk disekolah dasar dahulu? Ketika kamu memiliki "fans" ? Kamu ingat bagaimana reaksiku dulu? Ketika aku merasa amat cemburu , dan kamu lebih memilihku dan menjauhi "fans" mu itu. Saat itu teman-teman kita terus menjodoh-jodohkan kita . Aku menyukaimu , tapi kamu apa merasakan perasaan yang sama? Ah lupakan...kita masih terlalu kecil untuh merasakan itu, masih belum pantas, atau apalah itu.

Waktu terus bergulir , kita sudah memakai seragam putih-biru , bukan lagi putih-merah. Kemana kamu saat itu? Tak terbersit dibenakmu untuk menghubungiku? Aku terus mencari tahu kabarmu , sedangkan kamu? Bahagia dengan  pasanganmu , perempuan berkerudung yang kau panggil "diana" . Hatiku campur aduk saat mengetahui itu , namun ku tahu kamu tak sungguh-sungguh menyukainya . Lantas untuk apa kamu memilih dia menjadi pasanganmu? Untuk menjadikannya mainan? Hati itu bukan mainan , sayang.

Kamu ingat? Pertama kalinya kamu ingin menjemputku? Kamu tersesat dan tidak tahu jalan. Jumpa yang kedua kalinya kamu mengajakku untuk makan siang . Sederhana? Tapi begitu manis untukku. Aku masih mengingatnya, mengingat setiap detail tentang kamu, tentang kita...dulu.

Kamu ingat? Waktu aku genap berusia 16 tahun, kamu berdiri didepan rumahku dan menyatakan cinta kepadaku. Tak lupa kamu memberikanku sebuah boneka yang begitu besar untuk menemaniku. Kamu tahu? boneka itu masih setia menemaniku sampai saat ini . Tapi kenapa kamu tak setia menemaniku sampai saat ini?

Setahun berlalu dan perasaanmu perlahan mulai memudar , tak lagi sama seperti dulu. Berulang kali kamu meminta untuk terus mengakhiri hubungan ini, tapi aku masih terus bertahan untukmu, untuk kita. Namun aku merasa usaha ku untuk mempertahankanmu sia-sia, ketika aku melihat potret wajahmu dengan perempuan lain. Perempuan yang dulu sangat ku khawatirkan, karena aku takut kamu lebih memilih dia dibandingkan denganku. Pertahananku hancur, aku melepaskanmu. Aku, kamu, dan jalan kita masing-masing. Tidak ada lagi kita.

Sejak kita berpisah , tak pernah ada obrolan-obrolan yang dulu sering kita perbincangkan . Bagaimana kita mau berbincang , menyapaku pun kamu tak pernah? Aku kecewa , kamu tahu itu? Aku hanya bisa melihatmu dari jauh dalam diam yang tak ku tahu kapan berakhirnya. Saat-saat yang terberat yang pernah aku lalui. Kamu ingat saat aku memintamu kembali dalam pelukanku? Ketika itu aku membuang semua gengsi yang kurasa. Cinta selain melumpuhkan otakku , ia mampu membuang jauh-jauh rasa gengsi itu.



Hai kamu...Apa kamu sudah siap meninggalkan kota Jakarta ini untuk menuntut ilmu? Meninggalkan semua kenangan kita? Meninggalkan setiap cerita disudut Ibukota ini? Meninggalkan aku yang masih berharap kamu kembali?

Kelak, aku berharap kamu menjadikanku yang terakhir untukmu ketika kamu kembali. Iya, kembali menuliskan cerita yang teputus dimasa itu.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baskara

Biar aku hangus sendiri

Pernah